Anda pernah gagal? Aneh sekali jika tidak. Karena, setiap orang yang pernah membuat pencapaian bermakna, pasti pernah gagal. Jadi, jika merasa tidak pernah gagal; mungkin perlu dicek kembali pencapaian-pencapai an kita selama ini. Tetapi, sungguhkah setiap orang yang pernah mencoba pernah gagal? Ya. Memang demikian. Tetapi, mengapa ada orang yang kemudian berhasil, dan ada yang tidak? Tahukah anda apa gerangan penyebabnya?
”Aku tidak pernah kehilangan rasa kagum pada pohon pisang.” begitu saya bilang kepada istri saya ketika melintasi pintu gerbang komplek perumahan kami. Disana ada sebidang tanah kosong yang ditumbuhi beberapa rumpun pohon pisang. Ketika melintasinya, saya melihat beberapa batang pohon yang tumbuh dari pohon yang sudah ditebang. ”Karena,” saya melanjutkan. ”Mereka tidak pernah berhenti untuk tumbuh meski sudah ditebang.”
Mendengar pernyataan itu, istri saya tertawa geli. ”Iya,” katanya. ”Temanku sampai mencincangnya berkali-kali.” lanjutnya.
”Mencincang pohon pisang?” Saya dilanda keheranan. Kok ada orang yang mencincang pohon pisang. Bagi saya, kata ’mencincang’ memiliki unsur horor yang diciptakan dari kekesalan seseorang terhadap sesuatu. Kecuali ’daging cincang’, tentu saja.
Lalu, istri saya menceritakan tentang temannya yang membeli sebuah rumah minimalis yang cantik. Namun, dihalaman rumahnya terdapat pohon pisang. Rasanya janggal ditengah kota ada rumah minimalis yang ’dihiasi’ pohon pisang dihalamannya. Sangat mengganggu pemandangan. Maka, ditebanglah pohon pisang itu. Masalahnya, setiap kali ditebang sang pemilik baru rumah minimalis itu; sang pohon pisang selalu tumbuh lagi. Ditebang lagi. Tumbuh lagi. Sampai-sampai pemilik rumah kesal. Hingga, suatu kali dicincangnya itu batang pohon pisang. Matikah pohon pisang itu setelah dicincang? Subhanallah. Dia tumbuh lagi!
Setelah seluruh upayanya untuk ’mematikan’ pohon pisang itu gagal, akhirnya teman istri saya memutuskan untuk ’mengijinkannya’ tumbuh dihalaman. ”Yah sudahlah..., kalau berbuah nanti bisa dimakan juga,” begitu sang pemilik rumah bilang.
Anda yang pernah membaca buku pertama saya ’Belajar Sukses Kepada Alam’ tentu masih ingat kisah seorang petani yang mengajarkan nilai-nilai keteguhan hati kepada anaknya. Beliau menggunakan pohon pisang sebagai media untuk menunjukkan keutamaan sifat pantang menyerah itu. Sebab, pohon pisang; tidak mau mati ketika ditebang. Dia hanya akan bersedia mati, setelah dia berbuah. Kalau dia ditebang sebelum berbuah, jangan harap anda dapat membunuhnya. Lalu, petani itu berkata kepada anaknya; ”Ada satu cara yang tidak mungkin membiarkan engkau gagal, Nak.”
”Apakah gerangan itu Ayahanda?” Tanya sang anak.
”Yaitu, engkau tidak berhenti melakukan sesuatu; sebelum berhasil.” jawabnya.
Apa yang saya ceritakan diatas bukanlah kisah rekaan belaka. Melainkan sebuah realitas yang jika kita resapi maknanya; akan menunutun kita kepada sebuah keunggulan pribadi kelas tinggi. Sebab, seseorang yang memiliki semangat hidup seperti pohon pisang tidak akan pernah berhenti sebelum dia berhasil mewujudkan cita-citanya. Karena, falsafah hidup pohon pisang berbunyi;”tidak akan pernah menyerah, sebelum berbuah.” Sehingga, orang-orang yang menerapkan falsafah itu; tidak akan pernah menyerah, sebelum berhasil mewujudkan tujuan hidupnya.
Apa tujuan hidup anda? Saya tidak tahu. Yang pasti, tidak satupun manusia dimuka bumi ini yang tidak memiliki tujuan hidup. Apa tujuan hidup pohon pisang? Untuk berbuah. Kita tanya sekali lagi; apa tujuan hidup anda? Mungkin untuk berbuah juga. Namun, buah yang kita hasilkan bukan berupa tumbuhnya organ atau bagian tubuh secara fisikal. Melainkan, sebuah karya yang dihasilkan oleh tindakan dan perbuatan yang kita lakukan.
Jikapun kita masih belum mampu mendifinisikannya, tidak berarti tidak memilikinya. Karena, manusia normal memiliki ’will’ atau kehendak. Sehingga, pastilah mereka mempunyai dorongan dari dalam diri untuk berprestasi. Atau mencapai sesuatu dalam hidupnya. Oleh karenanya, sekalipun kita belum mampu mendefinisikan tujuan hidup kita dengan jelas, namun kita selalu memiliki keinginan untuk mencapai sesuatu. Dan itu bisa berarti sebuah anak tangga untuk menuju kepada wujud ’tujuan hidup itu’. Misalnya, ingin mendapatkan jabatan lebih tinggi lagi. Ingin memiliki uang lebih melimpah lagi. Ingin menjual lebih banyak lagi. Ingin memberi manfaat kepada orang lain lebih besar lagi. Ingin menjadi orang yang lebih penyayang. Dan sebagainya. Anda tentu memiliki keinginan-keinginan semacam itu, bukan?
Sekarang, coba periksa lagi; apakah perjalanan kita untuk mewujudkan keinginan itu selalu berjalan dijalur mulus. Atau selalu melintasi jalan terjal, licin, dan berliku? Yah, kadang-kadang segala sesuatu berjalan seperti yang kita inginkan. Namun, kita tahu bahwa tidak selamanya semudah itu. Pada saat segala sesuatunya indah, tentu hati kita berbunga-bunga. Hingga kita sering lupa daratan. Namun, pada saat segala sesuatunya begitu sulit; kita sering sekali mudah patah semangat. Dan gampang menyerah.
Padahal, pohon pisang itu tidaklah demikian. Bahkan setelah berkali-ali dicincang; dia tumbuh lagi. Dan terus tumbuh lagi. Saat sang pemilik rumah menemukan bahwa tidak ada gunanya terus menerus menebang pohon pisang; kita jadi tahu bahwa tak ada yang bisa menghentikan mereka yang pantang menyerah. Sebab, mereka yang pantang menyerah tidak akan pernah berhenti untuk berusaha. Seberat apapun tantangan yang mereka hadapi. Seperih apapun penderitaan yang mereka alami. Sesulit apapun rintangan yang mereka lintasi.
Duh, andai kita mampu mencerna falsafah pohon pisang itu. Lalu meresapinya didalam hati. Kemudian menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin tak ada satu hal pun dimuka bumi ini. Yang mampu membuat langkah kita terhenti. Karena, dengan falsafah itu; maka kita. Tidak akan pernah berhenti. Sebelum Berhasil. Mewujudkan. Tujuan hidup kita.
Raushanfikr90
Sebuah Lilin Penerang di Pekatnya Kegelapan
Assalammualaikum . . .
Rabu, 08 September 2010
Flashback Zaman Keemasan Islam "Menjadi Ilmuwan Muslim Sejati"
Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: Berlapang-lapanglah dalam majlis, lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 58:11)
Jum’at tanggal 2, 9 dan 16 mei merupakan hari yang berkesan bagi saya. Ketika itu, setelah lelah bergelut dengan mata kuliah listrik magnet dengan hukum biot savart dan hukum amperenya, Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan oleh Allah Swt untuk mengikuti ta’lim di mushola fisika bersama pak Freddy, pak Mikra dan pak Umar . Ada suatu hal yang membuat saya tertarik disini. Semua pandangan saya tentang ilmu berubah.
Pada mulanya saya menganggap bahwa ilmu yang saya dapatkan di kuliah hanya sebatas “tools” untuk
masa depan. Tentu, saya sebagai seseorang muslim selalu berusaha meniatkan dan menjalankannya untuk mencari ilmu ini karena Allah Swt. Namun, ternyata ada yang lebih istimewa dari hanya meniatkan dan menjalakannya saja. Ada suatu hal yang sering kita lupakan sebagai seorang muslim yang sedang mencari ilmu bahkan secara kasat mata jika kita terus melakukan hal ini dikuatirkan akan berdampak adanya sekulerisme dalam mencari ilmu itu sendiri. Sebagai contoh kita selalu merasa berbeda antara mengaji dan sedang kuliah. Ketika kita mengaji ada suatu “ruh” yang membuat kita senang karena kita mendapat pahala tetapi berbeda ketika kita sedang kuliah, ada saja bawaannya. . . ya ngantuklah . . . .ya pengen cepet keluarlah . .ya maleslah . . .padahal dua-duanya merupakan sumber pahala juga. Adapun yang lebih miris lagi ketika ada seorang aktivis dakwah yang sengaja meninggalkan kuliah dengan alasan hanya untuk menegakkan dakwah.. Kasus-kasus tersebut secara tidak langsung telah membuat adanya sekulerisme dalam mencari ilmu. . .Berbeda dengan ilmuwan islam terdahulu. Mereka bukan hanya memikirkan tentang dakwah tetapi juga ilmu yang sedang mereka geluti. Sekarang coba kita kenali satu-satu, ada tidak ilmuwan muslim pada zaman tersebut yang tidak hafal Al Qur’an???jawabannya tentu tidak . . .artinya mereka terus berdakwah dan tetap mendalami ilmunya.....
Ada kisah menarik tentang ilmuwan muslim yang diceritakan pak Umar. Beliau menceritakan bahwa di sebuah perpus di jerman tempat beliau kuliah, ada buku teks asli, peninggalan zaman keemasan Islam yang membuat beliau takjub. Dalam buku tersebut, di awal, di tengah dan di akhir hampir semua babnya selalu ada kata-kata takbir, tahmid, shalawat, dan kata kata lainnya yang memuliakan Allah dan Rasul-Nya. Berbeda dengan kita yang takut mencantumkan kata-kata tesebut pada catatan kuliah hanya karena takut terbuang. Coba kita lihat bagaimana seorang Al Ghazaly..beliau selalu menyimpan apa yang beliau tuliskan bukan hanya takut karena ada kalimat yang mengagungkan Allah dan Rasul-Nya, tetapi juga betapa berharganya ilmu yang beliau dapatkan.. Selain itu, ilmuwan muslim terdahulu juga mempunyai kebiasaan yang unik. Ketika mereka sedang belajar dan pada pertengahan jalan menemui kesulitan, mereka langsung shalat dua rakaat dan meminta petunjuk kepada Allah Swt dan mereka juga langsung membaca Al Qur’an....Nah bagaimana dengan kita???
Ada hal menarik lainnya jika kita flashback pada zaman keemasan islam lagi. Dulu ketika wilayah islam semakin besar, semakin sulit menentukan arah kiblat apalagi wilayah yang sangat jauh dari mekkah. Dari sini para ilmuwan muslim berlomba bagaimana caranya menentukan arah kiblat yang benar. Anehnya dari kompetisi ini malah lahir yang namanya sinus, cosinus, dan tangen yang kita tahu betapa bergunanya penemuan ini pada zaman sekarang . . . . Subhanallah . . . dari cerita ini kita dapat mengambil hikmah bahwa ternyta jika ilmu yang kita dapatkan terus kita amalkan dan gunakan dengan niatan ibadah akan melahirkan ilmu baru dan ilmu baru itu akan menghasilkan ilmu lainnya dan begitu seterusnya dan kita dapat bayangkan berapa pahala yang akan didapat jika kita mampu berbuat seperti itu karena jikalau kita meninggal dan selama ilmu kita terus dipakai dan menghasilkan ilmu lainnya, pahala itu akan terus mengalir....
Jum’at tanggal 2, 9 dan 16 mei merupakan hari yang berkesan bagi saya. Ketika itu, setelah lelah bergelut dengan mata kuliah listrik magnet dengan hukum biot savart dan hukum amperenya, Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan oleh Allah Swt untuk mengikuti ta’lim di mushola fisika bersama pak Freddy, pak Mikra dan pak Umar . Ada suatu hal yang membuat saya tertarik disini. Semua pandangan saya tentang ilmu berubah.
Pada mulanya saya menganggap bahwa ilmu yang saya dapatkan di kuliah hanya sebatas “tools” untuk
masa depan. Tentu, saya sebagai seseorang muslim selalu berusaha meniatkan dan menjalankannya untuk mencari ilmu ini karena Allah Swt. Namun, ternyata ada yang lebih istimewa dari hanya meniatkan dan menjalakannya saja. Ada suatu hal yang sering kita lupakan sebagai seorang muslim yang sedang mencari ilmu bahkan secara kasat mata jika kita terus melakukan hal ini dikuatirkan akan berdampak adanya sekulerisme dalam mencari ilmu itu sendiri. Sebagai contoh kita selalu merasa berbeda antara mengaji dan sedang kuliah. Ketika kita mengaji ada suatu “ruh” yang membuat kita senang karena kita mendapat pahala tetapi berbeda ketika kita sedang kuliah, ada saja bawaannya. . . ya ngantuklah . . . .ya pengen cepet keluarlah . .ya maleslah . . .padahal dua-duanya merupakan sumber pahala juga. Adapun yang lebih miris lagi ketika ada seorang aktivis dakwah yang sengaja meninggalkan kuliah dengan alasan hanya untuk menegakkan dakwah.. Kasus-kasus tersebut secara tidak langsung telah membuat adanya sekulerisme dalam mencari ilmu. . .Berbeda dengan ilmuwan islam terdahulu. Mereka bukan hanya memikirkan tentang dakwah tetapi juga ilmu yang sedang mereka geluti. Sekarang coba kita kenali satu-satu, ada tidak ilmuwan muslim pada zaman tersebut yang tidak hafal Al Qur’an???jawabannya tentu tidak . . .artinya mereka terus berdakwah dan tetap mendalami ilmunya.....
Ada kisah menarik tentang ilmuwan muslim yang diceritakan pak Umar. Beliau menceritakan bahwa di sebuah perpus di jerman tempat beliau kuliah, ada buku teks asli, peninggalan zaman keemasan Islam yang membuat beliau takjub. Dalam buku tersebut, di awal, di tengah dan di akhir hampir semua babnya selalu ada kata-kata takbir, tahmid, shalawat, dan kata kata lainnya yang memuliakan Allah dan Rasul-Nya. Berbeda dengan kita yang takut mencantumkan kata-kata tesebut pada catatan kuliah hanya karena takut terbuang. Coba kita lihat bagaimana seorang Al Ghazaly..beliau selalu menyimpan apa yang beliau tuliskan bukan hanya takut karena ada kalimat yang mengagungkan Allah dan Rasul-Nya, tetapi juga betapa berharganya ilmu yang beliau dapatkan.. Selain itu, ilmuwan muslim terdahulu juga mempunyai kebiasaan yang unik. Ketika mereka sedang belajar dan pada pertengahan jalan menemui kesulitan, mereka langsung shalat dua rakaat dan meminta petunjuk kepada Allah Swt dan mereka juga langsung membaca Al Qur’an....Nah bagaimana dengan kita???
Ada hal menarik lainnya jika kita flashback pada zaman keemasan islam lagi. Dulu ketika wilayah islam semakin besar, semakin sulit menentukan arah kiblat apalagi wilayah yang sangat jauh dari mekkah. Dari sini para ilmuwan muslim berlomba bagaimana caranya menentukan arah kiblat yang benar. Anehnya dari kompetisi ini malah lahir yang namanya sinus, cosinus, dan tangen yang kita tahu betapa bergunanya penemuan ini pada zaman sekarang . . . . Subhanallah . . . dari cerita ini kita dapat mengambil hikmah bahwa ternyta jika ilmu yang kita dapatkan terus kita amalkan dan gunakan dengan niatan ibadah akan melahirkan ilmu baru dan ilmu baru itu akan menghasilkan ilmu lainnya dan begitu seterusnya dan kita dapat bayangkan berapa pahala yang akan didapat jika kita mampu berbuat seperti itu karena jikalau kita meninggal dan selama ilmu kita terus dipakai dan menghasilkan ilmu lainnya, pahala itu akan terus mengalir....
Sekedar Saran Untuk Sebuah Pergerakan. . .
Bermula dari ta’lim dengan bersama dosen fisika Pak Zaki Su’ud, saya mulai memahami ternyata untuk mengubah sesuatu tidak harus dengan berkuasa. Ketiika itu, beliau bercerita tentang Negara Turki yang kita kenal sebagai negara muslim yang paling sekuler sampai-sampai istri seorang presidennya pun tidak boleh masuk ke tempat pemerintahannya karena memakai jilbab. Tetapi teman tahukah kalau ulama disana tidak terlalu ribet dalam menghadapi permasalah system seperti itu. Mengapa??karena ulama disana sebenarnya sudah berkuasa secara tidak langsung. Arti tidak langsung ini bukan berarti para ulama menduduki jabatan dalam pemerintahannya tetapi malahan sama sekali tidak menjabat apapun.
Lalu pertanyaannya apa yang membuat mereka berkuasa??ternyata mereka menguasai hal yang paling fundamental dalam Negara tersebut sehingga jika ditelaah lebih dalam, memang dalam system pemerintahannya sekuler tetapi dilihat semua sisi kehidupan rakyatnya dari ekonomi sampai media informasi dikuasai oleh para ulama sehingga dakwah pun sangat gencar. Yang menarik ketika salah satu ulama diculik karena ceramahnya yang keras, ulama tersebut melawan kepada pejabat yang menculiknya cukup dengan kata-kata : “kalau anda membunuh saya, besok pagi semua perekonomian Turki ambruk”. Akhirnya pejabat itu pun ketakutan dan tidak jadi melakukan perbuatan jahatnya dan entah diapakan selanjutnya. Dari sini, kita dapat melihat para pejabat pemerintahan di sana dapat dikatakan hanya sebagai aksesoris saja karena toh mereka tidak dapat berbuat apa-apa terhadap dakwah yang digencarkan para ulama dan juga setiap kebijakan yang dibuatnya pun selalu dapat diintervensi dengan mudah. Artinya, hanya tinggal menunggu waktu pemerintahan disana akan benar-benar menjadi islam kembali.
Dari cerita tentang Negara turki dari pak Zaki Su’ud tersebut, saya jadi berpikir bagaimana hal ini juga diterapkan dalam dakwah kampus kita bahkan untuk Negara kita. Kita tidak harus menguasai semua aspek dalam system tersebut dengan menjadi orang berkuasa disana. Jikalau kita ingin menguasainya hendaknya periksa terlebih dahulu apakah orang-orang yang dibelakang kita dalam memegang amanah dakwah ini siap atau tidak. Percuma jika seorang kader dakwah sekalipun maju menjadi ketua dalam suatu sistem, jika orang-orang yang disampingnya tidak siap, maka tetap dakwah yang ingin disampaikan akan terhambat
Mengingat hal tersebut saya jadi ingat tentang cerita teman saya yang dapat membuat sekolahnya benar-benar berubah dengan cara yang dapat dibilang sangat sederhana. Ceritanya dimulai ketika ada teman saya itu berpendapat bagaimana jika setiap akan belajar dan berganti pelajaran dimulai dengan do’a bersama dengan dipimpin oleh seorang kader dakwah pada setiap kelas. Memang pada awalnya tidak memberikan efek yang begitu besar. Namun dari sinilah “pintunya” mulai terbuka. Mereka mulai terbiasa dengan kegiatan tersebut yang akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang tak bisa ditinggalkan. Hingga pada akhirnya, mereka tak merasa canggung dengan adanya ta’lim-ta’lim yang diadakan oleh rohis disana malah semakin lama semakin banyak. Parameter keberhasilan dakwah pun terpenuhi, karena dari hasil survey yang dilakukan teman saya itu, membuat mereka menjadi tahu akan islam itu sendiri dan banyak yang ingin lebih dalam mempelajarinya. Subhanallah, ternyata hanya dengan cara menguasai sebuah sector yaitu kelas, sekolahnya dapat berubah.
Nah, pertanyaannya bagaimana dengan kampus kita??sekali lagi tidak perlu dimulai dengan hal yang berat cukup dengan hal yang sederhana tapi terencana, sederhana tapi paling fundamental, dan sederhana tapi punya potensi untuk membesar . . .
Lalu pertanyaannya apa yang membuat mereka berkuasa??ternyata mereka menguasai hal yang paling fundamental dalam Negara tersebut sehingga jika ditelaah lebih dalam, memang dalam system pemerintahannya sekuler tetapi dilihat semua sisi kehidupan rakyatnya dari ekonomi sampai media informasi dikuasai oleh para ulama sehingga dakwah pun sangat gencar. Yang menarik ketika salah satu ulama diculik karena ceramahnya yang keras, ulama tersebut melawan kepada pejabat yang menculiknya cukup dengan kata-kata : “kalau anda membunuh saya, besok pagi semua perekonomian Turki ambruk”. Akhirnya pejabat itu pun ketakutan dan tidak jadi melakukan perbuatan jahatnya dan entah diapakan selanjutnya. Dari sini, kita dapat melihat para pejabat pemerintahan di sana dapat dikatakan hanya sebagai aksesoris saja karena toh mereka tidak dapat berbuat apa-apa terhadap dakwah yang digencarkan para ulama dan juga setiap kebijakan yang dibuatnya pun selalu dapat diintervensi dengan mudah. Artinya, hanya tinggal menunggu waktu pemerintahan disana akan benar-benar menjadi islam kembali.
Dari cerita tentang Negara turki dari pak Zaki Su’ud tersebut, saya jadi berpikir bagaimana hal ini juga diterapkan dalam dakwah kampus kita bahkan untuk Negara kita. Kita tidak harus menguasai semua aspek dalam system tersebut dengan menjadi orang berkuasa disana. Jikalau kita ingin menguasainya hendaknya periksa terlebih dahulu apakah orang-orang yang dibelakang kita dalam memegang amanah dakwah ini siap atau tidak. Percuma jika seorang kader dakwah sekalipun maju menjadi ketua dalam suatu sistem, jika orang-orang yang disampingnya tidak siap, maka tetap dakwah yang ingin disampaikan akan terhambat
Mengingat hal tersebut saya jadi ingat tentang cerita teman saya yang dapat membuat sekolahnya benar-benar berubah dengan cara yang dapat dibilang sangat sederhana. Ceritanya dimulai ketika ada teman saya itu berpendapat bagaimana jika setiap akan belajar dan berganti pelajaran dimulai dengan do’a bersama dengan dipimpin oleh seorang kader dakwah pada setiap kelas. Memang pada awalnya tidak memberikan efek yang begitu besar. Namun dari sinilah “pintunya” mulai terbuka. Mereka mulai terbiasa dengan kegiatan tersebut yang akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang tak bisa ditinggalkan. Hingga pada akhirnya, mereka tak merasa canggung dengan adanya ta’lim-ta’lim yang diadakan oleh rohis disana malah semakin lama semakin banyak. Parameter keberhasilan dakwah pun terpenuhi, karena dari hasil survey yang dilakukan teman saya itu, membuat mereka menjadi tahu akan islam itu sendiri dan banyak yang ingin lebih dalam mempelajarinya. Subhanallah, ternyata hanya dengan cara menguasai sebuah sector yaitu kelas, sekolahnya dapat berubah.
Nah, pertanyaannya bagaimana dengan kampus kita??sekali lagi tidak perlu dimulai dengan hal yang berat cukup dengan hal yang sederhana tapi terencana, sederhana tapi paling fundamental, dan sederhana tapi punya potensi untuk membesar . . .
Langganan:
Postingan (Atom)