Assalammualaikum . . .

Assalammualaikum wr wb . . .

Rabu, 08 September 2010

Flashback Zaman Keemasan Islam "Menjadi Ilmuwan Muslim Sejati"

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: Berlapang-lapanglah dalam majlis, lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 58:11)

Jum’at tanggal 2, 9 dan 16 mei merupakan hari yang berkesan bagi saya. Ketika itu, setelah lelah bergelut dengan mata kuliah listrik magnet dengan hukum biot savart dan hukum amperenya, Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan oleh Allah Swt untuk mengikuti ta’lim di mushola fisika bersama pak Freddy, pak Mikra dan pak Umar . Ada suatu hal yang membuat saya tertarik disini. Semua pandangan saya tentang ilmu berubah.

Pada mulanya saya menganggap bahwa ilmu yang saya dapatkan di kuliah hanya sebatas “tools” untuk
masa depan. Tentu, saya sebagai seseorang muslim selalu berusaha meniatkan dan menjalankannya untuk mencari ilmu ini karena Allah Swt. Namun, ternyata ada yang lebih istimewa dari hanya meniatkan dan menjalakannya saja. Ada suatu hal yang sering kita lupakan sebagai seorang muslim yang sedang mencari ilmu bahkan secara kasat mata jika kita terus melakukan hal ini dikuatirkan akan berdampak adanya sekulerisme dalam mencari ilmu itu sendiri. Sebagai contoh kita selalu merasa berbeda antara mengaji dan sedang kuliah. Ketika kita mengaji ada suatu “ruh” yang membuat kita senang karena kita mendapat pahala tetapi berbeda ketika kita sedang kuliah, ada saja bawaannya. . . ya ngantuklah . . . .ya pengen cepet keluarlah . .ya maleslah . . .padahal dua-duanya merupakan sumber pahala juga. Adapun yang lebih miris lagi ketika ada seorang aktivis dakwah yang sengaja meninggalkan kuliah dengan alasan hanya untuk menegakkan dakwah.. Kasus-kasus tersebut secara tidak langsung telah membuat adanya sekulerisme dalam mencari ilmu. . .Berbeda dengan ilmuwan islam terdahulu. Mereka bukan hanya memikirkan tentang dakwah tetapi juga ilmu yang sedang mereka geluti. Sekarang coba kita kenali satu-satu, ada tidak ilmuwan muslim pada zaman tersebut yang tidak hafal Al Qur’an???jawabannya tentu tidak . . .artinya mereka terus berdakwah dan tetap mendalami ilmunya.....

Ada kisah menarik tentang ilmuwan muslim yang diceritakan pak Umar. Beliau menceritakan bahwa di sebuah perpus di jerman tempat beliau kuliah, ada buku teks asli, peninggalan zaman keemasan Islam yang membuat beliau takjub. Dalam buku tersebut, di awal, di tengah dan di akhir hampir semua babnya selalu ada kata-kata takbir, tahmid, shalawat, dan kata kata lainnya yang memuliakan Allah dan Rasul-Nya. Berbeda dengan kita yang takut mencantumkan kata-kata tesebut pada catatan kuliah hanya karena takut terbuang. Coba kita lihat bagaimana seorang Al Ghazaly..beliau selalu menyimpan apa yang beliau tuliskan bukan hanya takut karena ada kalimat yang mengagungkan Allah dan Rasul-Nya, tetapi juga betapa berharganya ilmu yang beliau dapatkan.. Selain itu, ilmuwan muslim terdahulu juga mempunyai kebiasaan yang unik. Ketika mereka sedang belajar dan pada pertengahan jalan menemui kesulitan, mereka langsung shalat dua rakaat dan meminta petunjuk kepada Allah Swt dan mereka juga langsung membaca Al Qur’an....Nah bagaimana dengan kita???

Ada hal menarik lainnya jika kita flashback pada zaman keemasan islam lagi. Dulu ketika wilayah islam semakin besar, semakin sulit menentukan arah kiblat apalagi wilayah yang sangat jauh dari mekkah. Dari sini para ilmuwan muslim berlomba bagaimana caranya menentukan arah kiblat yang benar. Anehnya dari kompetisi ini malah lahir yang namanya sinus, cosinus, dan tangen yang kita tahu betapa bergunanya penemuan ini pada zaman sekarang . . . . Subhanallah . . . dari cerita ini kita dapat mengambil hikmah bahwa ternyta jika ilmu yang kita dapatkan terus kita amalkan dan gunakan dengan niatan ibadah akan melahirkan ilmu baru dan ilmu baru itu akan menghasilkan ilmu lainnya dan begitu seterusnya dan kita dapat bayangkan berapa pahala yang akan didapat jika kita mampu berbuat seperti itu karena jikalau kita meninggal dan selama ilmu kita terus dipakai dan menghasilkan ilmu lainnya, pahala itu akan terus mengalir....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar