Bermula dari ta’lim dengan bersama dosen fisika Pak Zaki Su’ud, saya mulai memahami ternyata untuk mengubah sesuatu tidak harus dengan berkuasa. Ketiika itu, beliau bercerita tentang Negara Turki yang kita kenal sebagai negara muslim yang paling sekuler sampai-sampai istri seorang presidennya pun tidak boleh masuk ke tempat pemerintahannya karena memakai jilbab. Tetapi teman tahukah kalau ulama disana tidak terlalu ribet dalam menghadapi permasalah system seperti itu. Mengapa??karena ulama disana sebenarnya sudah berkuasa secara tidak langsung. Arti tidak langsung ini bukan berarti para ulama menduduki jabatan dalam pemerintahannya tetapi malahan sama sekali tidak menjabat apapun.
Lalu pertanyaannya apa yang membuat mereka berkuasa??ternyata mereka menguasai hal yang paling fundamental dalam Negara tersebut sehingga jika ditelaah lebih dalam, memang dalam system pemerintahannya sekuler tetapi dilihat semua sisi kehidupan rakyatnya dari ekonomi sampai media informasi dikuasai oleh para ulama sehingga dakwah pun sangat gencar. Yang menarik ketika salah satu ulama diculik karena ceramahnya yang keras, ulama tersebut melawan kepada pejabat yang menculiknya cukup dengan kata-kata : “kalau anda membunuh saya, besok pagi semua perekonomian Turki ambruk”. Akhirnya pejabat itu pun ketakutan dan tidak jadi melakukan perbuatan jahatnya dan entah diapakan selanjutnya. Dari sini, kita dapat melihat para pejabat pemerintahan di sana dapat dikatakan hanya sebagai aksesoris saja karena toh mereka tidak dapat berbuat apa-apa terhadap dakwah yang digencarkan para ulama dan juga setiap kebijakan yang dibuatnya pun selalu dapat diintervensi dengan mudah. Artinya, hanya tinggal menunggu waktu pemerintahan disana akan benar-benar menjadi islam kembali.
Dari cerita tentang Negara turki dari pak Zaki Su’ud tersebut, saya jadi berpikir bagaimana hal ini juga diterapkan dalam dakwah kampus kita bahkan untuk Negara kita. Kita tidak harus menguasai semua aspek dalam system tersebut dengan menjadi orang berkuasa disana. Jikalau kita ingin menguasainya hendaknya periksa terlebih dahulu apakah orang-orang yang dibelakang kita dalam memegang amanah dakwah ini siap atau tidak. Percuma jika seorang kader dakwah sekalipun maju menjadi ketua dalam suatu sistem, jika orang-orang yang disampingnya tidak siap, maka tetap dakwah yang ingin disampaikan akan terhambat
Mengingat hal tersebut saya jadi ingat tentang cerita teman saya yang dapat membuat sekolahnya benar-benar berubah dengan cara yang dapat dibilang sangat sederhana. Ceritanya dimulai ketika ada teman saya itu berpendapat bagaimana jika setiap akan belajar dan berganti pelajaran dimulai dengan do’a bersama dengan dipimpin oleh seorang kader dakwah pada setiap kelas. Memang pada awalnya tidak memberikan efek yang begitu besar. Namun dari sinilah “pintunya” mulai terbuka. Mereka mulai terbiasa dengan kegiatan tersebut yang akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang tak bisa ditinggalkan. Hingga pada akhirnya, mereka tak merasa canggung dengan adanya ta’lim-ta’lim yang diadakan oleh rohis disana malah semakin lama semakin banyak. Parameter keberhasilan dakwah pun terpenuhi, karena dari hasil survey yang dilakukan teman saya itu, membuat mereka menjadi tahu akan islam itu sendiri dan banyak yang ingin lebih dalam mempelajarinya. Subhanallah, ternyata hanya dengan cara menguasai sebuah sector yaitu kelas, sekolahnya dapat berubah.
Nah, pertanyaannya bagaimana dengan kampus kita??sekali lagi tidak perlu dimulai dengan hal yang berat cukup dengan hal yang sederhana tapi terencana, sederhana tapi paling fundamental, dan sederhana tapi punya potensi untuk membesar . . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar